Masih banyak yang bingung membedakan. Pernah beberapa kali saya membaca tulisan yang menyebut bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan bahasa daerah lain sebagai dialek daerah “regional dialects”. Barangkali penulis tersebut berpikir bahwa dialek dan bahasa itu sama.

Yuk, dibahas. Mari kita mulai dari logat dulu…

Accent

Aksen atau logat berkaitan dengan aspek bunyi bahasa. Orang Kudus beda logatnya dengan orang Pati, walau lokasi kota berdekatan dan keduanya menggunakan dialek yang sama, dialek Muria. Orang Pati dan Kudus beda logatnya dengan orang Semarang, karena jelas-jelas ia menggunakan dialek yang berbeda.

Secara umum, aksen (dari dialek yang sama) tidak mempengaruhi kesepahaman. Mungkin aksen bisa menimbulkan sedikit masalah komunikasi bila kedua belah pihak adalah penutur dialek, atau bahkan bahasa, yang berbeda.

Dialect, Regional Dialect

Dialek, bisa disebut sebagai sub-bahasa, atau turunan dari suatu bahasa tertentu. Disebut dialek berbeda apabila dua entitas yang dibandingkan memiliki, tak hanya perbedaan aspek bunyi saja melainkan juga perbedaan kosakata.

Jumlah kosakata yang berbeda ini tidak banyak, sehingga dua penutur dialek yang berbeda (dari bahasa yang sama) masih bisa saling memahami satu sama lain.

Misalnya saya mendengarkan rekaman radio dalam dialek Tegal. Saya bukan penutur dialek Tegal. Meskipun ada beberapa kosakata yang tidak saya mengerti, saya masih bisa paham maksud ucapan si penutur dan dapat mengikuti alur pembicaraan dengan baik. Hal ini karena dialek Tegal adalah turunan bahasa Jawa dan saya penutur asli bahasa Jawa.

Language, Regional Language

Bahasa – disebut bahasa yang berbeda apabila kosakata (dan mungkin juga tatabahasa) dari entitas yang dibandingkan tersebut berbeda. Perbedaan ini membuat penutur dari kedua bahasa yang berbeda sulit untuk saling memahami.

Regional dialects =/= Regional languages

Bahasa Sunda dan bahasa Jawa adalah dua bahasa yang berbeda. Keduanya memiliki kosakata yang berbeda. Kalaupun ada yang sama, jumlahnya hanya sedikit sehingga tidak cukup membantu kedua penutur untuk saling memahami.

Menyebut bahasa Sunda dan Jawa sebagai dialek regional atau turunan bahasa Indonesia tentunya salah kaprah, karena jelas-jelas ketiganya adalah bahasa yang berbeda. Itulah mengapa disebut bahasa Jawa, Sunda, dsb, disebut bahasa daerah (regional languages). Istilah ini tidak bersinonim dengan istilah dialek daerah (regional dialects).

Dialek pemersatu?

Penutur bahasa Sunda dan Jawa akan kesulitan berkomunikasi satu sama lain karena keduanya menggunakan bahasa yang berbeda. Demikian juga apabila mereka ingin berkomunikasi dengan orang dari suku lain di Indonesia, mereka pun akan kesulitan karena tidak adanya kesepahaman dalam berbahasa.

Beda kalau perbedaan itu hanya terletak pada tataran dialek saja. Masalah komunikasi tidak akan terlalu besar karena masih ada kesepahaman antara penutur. Tidak perlulah kita menggunakan lingua franca kalau cuma beda dialek saja karena toh kita masih bisa saling memahami.

Tidak adanya kesepahaman berbahasa inilah yang menginspirasi lahirnya bahasa Indonesia, yang lantas dijadikan sebagai bahasa pemersatu, bukan dialek pemersatu.

Advertisements