Beberapa waktu lalu saya tengah menyimak diskusi antara ekspatriat dan orang-orang Indonesia di sebuah grup di Facebook. Diskusi tentang sebutan “bule”. Beberapa ekspatriat keberatan dengan sebutan tersebut, tak lain karena kata “bule” berasal dari kata “albino” (sebutan bagi penderita albinisme).

Obrolan tentang sebutan “bule” ini sudah beberapa kali saya dengar sebelumnya, tapi tetap saja pada akhirnya, diskusi ini tidak pernah berakhir dengan kesimpulan yang memuaskan.

Istilah “bule” yang digunakan untuk menyebut orang kulit putih (Kaukasia) sudah terlanjur umum digunakan. Kata “bule” lebih ringkas jika dibandingkan dengan “orang kulit putih” sehingga lebih populer digunakan dalam percakapan.

Mungkin tidak banyak orang tahu asal muasal kata “bule” dan murni menggunakannya karena alasan kepopuleran, tanpa bermaksud mengolok-olok. Lagipula, tidak ada keharusan bagi penutur bahasa untuk selalu tahu asal muasal tiap kata yang ia gunakan.

Istilah alternatif yang dapat digunakan untuk menggantikan kata “bule” adalah “orang asing” (foreigners). Namun, bagaimana kalau orang kulit putih tersebut sudah tinggal selama puluhan tahun di Indonesia; apakah sebutan “asing” itu relevan?

Terlepas dari kekurangan tersebut, istilah “orang asing” cenderung lebih fleksibel dibandingkan dengan istilah “bule” karena bisa digunakan juga untuk merujuk orang kulit hitam, latin, dan lain-lain.

Alternatif lain selain “orang asing” adalah “pendatang” (visitors) dan “orang berkewarganegaraan lain” (people of other citizenship). Karena tidak merujuk pada warna kulit, kedua istilah ini tampaknya paling aman untuk menghindari kesalahpahaman.

Akan tetapi, sebutan “pendatang” menandakan jarak. Sebutan ini pun umum digunakan untuk menyebut sesama WNI yang kebetulan datang dari daerah lain. Biarpun sudah tinggal beberapa lama, tak jarang mereka masih disebut “pendatang”.

Khusus untuk “pendatang” dari luar negeri, “tamu” (guests) biasa juga digunakan. Meski sudah tinggal puluhan tahun pun, tak jarang mereka masih disebut “tamu”.

Istilah “orang berkewarganegaraan lain” rasanya paling pas karena hanya merujuk pada perbedaan kewarganegaraan saja. Tidak ada penyebutan warna kulit atau penanda “pengasingan” yang begitu jelas.

Akan tetapi (ya, ada tapinya lagi), istilah ini terlalu panjang untuk digunakan dalam ragam cakap santai dan cenderung terdengar terlalu formal.

Atau lebih baik kita pakai istilah WNA (Warga Negara Asing) saja? Ah, lagi-lagi kata “asing”.

 

Advertisements